
Sentimen risiko masih sedikit positif pada awal Rabu, seiring perhatian pasar beralih dari perang Iran ke keputusan bank sentral mendatang. Trader memperkirakan tekanan inflasi yang mereda dan data ekonomi yang belakangan ini kuat dapat mendorong Bank of Canada (BoC) dan Federal Reserve (Fed) untuk mengambil sikap hawkish dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). Pergeseran ini menandakan aversi risiko yang menurun, sehingga menekan Dolar AS dan harga minyak mentah. Harga emas juga melanjutkan penurunannya karena ekspektasi pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh bank sentral utama memudar.
Di saat yang sama, ketegangan geopolitik terus berlanjut. Pembunuhan seorang pejabat senior Iran lainnya memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS mungkin akan bertindak sendiri jika mitra global gagal menghentikan Iran memblokir Selat Hormuz. Sentimen pasar juga didukung oleh persetujuan China untuk membeli chip kecerdasan buatan NVIDIA H200, serta kabar ekonomi yang menggembirakan dari Jepang dan Australia.
Sementara itu, Irak dan Pemerintah Regional Kurdistan sepakat untuk melanjutkan ekspor minyak melalui Ceyhan, sedangkan India berkoordinasi dengan Iran untuk memastikan pengiriman energi yang aman melalui Selat Hormuz.
Pertumbuhan ekspor Jepang melambat akibat pengiriman mobil ke AS yang melemah dan permintaan China yang lebih rendah selama periode Tahun Baru Imlek. Pada saat yang sama, Jepang dan AS bersiap mengumumkan komitmen investasi tambahan senilai lebih dari ¥11 triliun sebagai bagian dari kerja sama ekonomi yang sedang berlangsung. Di pasar mata uang, pasangan mata uang utama bergerak dalam kisaran sempit menjelang keputusan FOMC. Perhatian juga tertuju pada pengumuman kebijakan Bank of Japan (BoJ), dengan kedua bank sentral diperkirakan luas akan mempertahankan suku bunga.
Di sektor teknologi, beberapa perusahaan China mendapat persetujuan untuk membeli chip kecerdasan buatan NVIDIA H200, yang mengindikasikan pelonggaran terbatas atas pembatasan perdagangan semikonduktor global. Sementara itu, Donald Trump mengisyaratkan bahwa sebagian besar sekutu kemungkinan tidak akan membantu dalam situasi di Selat Hormuz, tetapi menegaskan bahwa AS dapat menanganinya sendiri. Ia menyebut konflik mungkin berlangsung beberapa pekan lagi dan mengkritik North Atlantic Treaty Organization (NATO) karena tidak terlibat.
Perkembangan penting terjadi ketika Direktur National Counterterrorism Center (NCTC) Joe Kent mengundurkan diri terkait konflik Iran, menandakan munculnya penolakan dari internal. Perilaku pasar juga menunjukkan perubahan: saham dan minyak sama-sama naik untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai. Hal ini mencerminkan perbedaan pandangan antara kekhawatiran pasokan dalam waktu dekat dan ekspektasi jangka panjang. Meski strategi AS masih belum pasti, pasar meyakini pemerintah tetap berpegang pada perkiraan awal durasi konflik selama empat hingga lima pekan. Pemerintah juga mempertimbangkan pelonggaran sanksi minyak Venezuela untuk mendukung pasokan global. Sebuah survei swasta juga menunjukkan kenaikan persediaan minyak mentah yang jauh lebih besar dari perkiraan.
Data ekonomi AS menunjukkan penjualan rumah tertunda pada Februari naik 1,8%, berlawanan dengan perkiraan penurunan. Sementara itu, laporan Automatic Data Processing (ADP) tentang perubahan jumlah tenaga kerja mencatat penambahan 9.000 pekerjaan, dibandingkan 14.750 sebelumnya.
Dalam pergerakan pasar secara luas, Indeks Dolar AS (DXY) turun untuk sesi ketiga berturut-turut, sementara minyak mentah jatuh ke level terendah dalam satu pekan dan harga emas melanjutkan tren penurunannya. Pasangan mata uang utama bergerak lesu, meski AUDUSD dan NZDUSD mempertahankan kenaikan baru-baru ini. USDCAD naik untuk sesi kedua berturut-turut meskipun Dolar AS melemah, didukung harga minyak yang lebih rendah dan ekspektasi bahwa FOMC mungkin mengambil sikap yang lebih hawkish daripada BoC. Cryptocurrency tidak menunjukkan arah yang jelas setelah reli delapan hari berakhir. Sementara itu, saham Asia-Pasifik menguat, mengikuti kenaikan Wall Street selama beberapa sesi berturut-turut meski ketidakpastian geopolitik masih berlangsung.



Dolar AS tetap melemah selama tiga hari berturut-turut, sehingga Euro (EUR), Pound Inggris (GBP), dan Yen Jepang (JPY) melanjutkan kenaikan selama tiga sesi berturut-turut. Ini terjadi meski tidak ada berita positif yang kuat terkait risiko maupun katalis ekonomi utama dari Eropa, Inggris, dan Jepang. Akibatnya, EURUSD dan GBPUSD naik untuk hari ketiga, sementara USDJPY masih tertekan setelah turun selama dua sesi sebelumnya.
Di Eropa, Indeks Sentimen Ekonomi ZEW bulan Maret untuk Zona Euro dan Jerman sama-sama berada di bawah ekspektasi, menandakan prospek yang lebih lemah. Di Inggris, belum ada perkembangan besar karena pasar menantikan keputusan kebijakan moneter Bank of England (BoE) yang dijadwalkan pada Kamis.
Di Jepang, data ekspor melampaui perkiraan, tetapi menunjukkan momentum yang melambat. Pada saat yang sama, sentimen bisnis meningkat signifikan. Survei Reuters Tankan menunjukkan kepercayaan produsen naik menjadi +18 pada Maret dari +13 pada Februari, level tertinggi sejak Desember 2021. Selain itu, perusahaan-perusahaan besar Jepang diperkirakan akan mencatat kenaikan upah yang solid untuk tahun keempat berturut-turut setelah negosiasi ketenagakerjaan “shunto”. Hal ini didorong oleh kekurangan tenaga kerja yang berlanjut dan kebutuhan untuk mempertahankan pekerja di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
AUDUSD dan NZDUSD mencatat kenaikan tipis, didukung sentimen pasar yang sedikit positif dan pelemahan Dolar AS yang berlanjut. AUDUSD menguat meski data sentimen domestik lebih lemah, karena tetap ditopang optimisme setelah Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun. Selain itu, sentimen risiko yang positif diperkuat oleh kabar bahwa China menyetujui kesepakatan NVIDIA, yang turut mendukung kedua pasangan mata uang tersebut. Prospek ekonomi Australia mulai melemah, dengan Westpac–Melbourne Institute Leading Index bertahan di +0,08% pada Februari berdasarkan angka tahunan enam bulan. Ini menunjukkan pertumbuhan masih sedikit di atas tren, tetapi perlahan kehilangan momentum akibat kondisi keuangan yang terus berubah.
Saat mata uang utama lainnya dan mata uang Antipodean (AUD dan NZD) menguat karena Dolar AS melemah, USDCAD naik untuk hari kedua berturut-turut, mengejutkan pasar menjelang keputusan kebijakan penting dari Bank of Canada (BoC) dan Federal Reserve (Fed) dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Kenaikan pasangan Loonie (USDCAD) didukung oleh penurunan harga minyak mentah, ekspor utama Kanada, serta ekspektasi bahwa BoC mungkin mengambil sikap yang tidak seagresif Fed, terutama setelah data ketenagakerjaan dan inflasi Kanada yang lebih lemah dirilis sebelumnya.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun ke level terendah dalam sepekan, sementara emas masih tertekan setelah melemah selama empat hari berturut-turut, seiring pelaku pasar bersiap menghadapi agenda penting bank sentral. Tidak adanya eskalasi besar dalam ketegangan antara AS dan Iran turut membuat sentimen terhadap komoditas ini melemah.
Setelah kepala keamanan Ali Larijani tewas, Iran melancarkan serangan ke Israel dan aset-aset yang terkait dengan AS. Meski demikian, harga minyak turun karena pasar belum melihat tanda-tanda jelas akan terjadinya eskalasi lebih lanjut. Pergerakan harga juga dipengaruhi oleh data persediaan swasta AS yang beragam. Data tersebut menunjukkan kenaikan stok minyak mentah yang lebih besar dari perkiraan, disertai penurunan persediaan bensin yang juga lebih besar dari perkiraan. Data resmi dijadwalkan dirilis pada sesi AS nanti.
Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) masih bergerak terbatas pada awal Rabu setelah reli delapan hari berakhir, sementara trader menantikan keputusan penting bank sentral. Sementara itu, saham Asia-Pasifik mencatat kenaikan tipis setelah Wall Street menguat selama dua sesi berturut-turut.
Di AS, saham ditutup menguat, menandakan optimisme yang berhati-hati. Indeks Russell 2000 memimpin dengan kenaikan 0,67%, mencerminkan meningkatnya minat terhadap aset berisiko lebih tinggi. Sementara itu, NASDAQ Composite naik 0,47%, didukung oleh minat yang berlanjut pada saham teknologi berbasis kecerdasan buatan. Standard & Poor’s 500 (S&P 500) naik 0,25%, sedangkan Dow Jones Industrial Average (DJIA) bertambah 0,10%. Tren pasar secara keseluruhan bergerak stabil, bukan melonjak tajam. Ini menunjukkan sentimen yang membaik dan peralihan selektif ke saham-saham bertumbuh serta berkapitalisasi kecil, meski trader tetap mewaspadai ketidakpastian makroekonomi dan geopolitik.
Ke depan, setelah Federal Reserve (Fed) mengumumkan keputusannya, perhatian pasar diperkirakan akan lebih tertuju pada dampak ekonomi konflik Iran. Nada Fed mungkin tetap hawkish dengan menekankan risiko inflasi—terutama yang berasal dari energi—namun kekhawatiran akan dampak negatif terhadap lapangan kerja dan pendapatan rumah tangga semakin meningkat.
Trader juga akan mencermati rilis data ekonomi penting, termasuk inflasi Zona Euro, Indeks Harga Produsen (PPI) AS, dan Pesanan Pabrik AS, menjelang pengumuman kebijakan moneter Bank of Canada (BoC) dan Fed. Data mingguan persediaan minyak AS serta perkembangan seputar Iran dan Selat Hormuz juga akan tetap penting bagi sentimen pasar.
BoC dan Fed diperkirakan secara luas akan mempertahankan suku bunga, sementara kejutan ekonomi yang ekstrem tidak diperkirakan terjadi. Dalam kondisi ini, Dolar AS (USD) berpotensi rebound jika Ketua Fed Powell mempertahankan nada optimistis dan Ringkasan Proyeksi Ekonomi FOMC menunjukkan prospek AS yang positif. USD yang lebih kuat, bersama panduan BoC yang stabil dan harga minyak mentah yang lebih rendah, dapat mendorong USDCAD naik sekaligus menekan mata uang utama lainnya, kripto, dan saham. Sementara itu, jika USD menguat, emas berisiko menguji level support di sekitar $4.800.
Semoga keberuntungan menyertai trading Anda!