
Pasar keuangan global dibuka dengan optimisme tipis pada Selasa seiring meredanya penghindaran risiko akibat ketegangan Amerika Serikat–Iran. Namun, para trader tetap berhati-hati menjelang munculnya sinyal baru dan putaran perundingan berikutnya yang diperkirakan berlangsung pada Kamis. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut adanya kemajuan berarti dalam perundingan dan mengatakan bahwa kesepakatan hampir tercapai sebelum prosesnya terhenti. Hal ini memperbaiki sentimen, meski ketidakpastian masih ada.
Upaya diplomatik di Timur Tengah turut mendukung perbaikan sentimen ini. Diskusi tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, yang difasilitasi Pakistan dan berlangsung lebih dari 20 jam, hampir menghasilkan kesepakatan kerangka kerja sebelum perbedaan pendapat pada tahap akhir menghentikan kemajuan. Meski belum ada kesepakatan final, kedua pihak bersedia melanjutkan perundingan. Laporan Associated Press (AP) dan Reuters menyebut perundingan dapat segera dilanjutkan, sementara JD Vance menyatakan bahwa kesepakatan yang lebih luas masih dapat dicapai.
Perhatian juga tertuju pada ketegangan Israel–Lebanon. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan mengadakan pembicaraan persiapan yang melibatkan Hezbollah. Kepala riset ekonomi Allianz Trade, Ana Boata, memperingatkan bahwa risiko resesi dapat meningkat pada akhir tahun (musim gugur di AS) jika konflik berlanjut. Mencerminkan sikap hati-hati, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendukung pendekatan Federal Reserve (Fed) untuk “menunggu dan melihat” terkait suku bunga. Presiden Federal Reserve Chicago (Chicago Fed) Austan Goolsbee menilai tekanan terkait minyak bersifat sementara, meski pandangan ini masih diperdebatkan.
Data AS terbaru menunjukkan penjualan rumah bekas pada Maret mencapai 3,98 juta, dibandingkan perkiraan 4,06 juta dan angka sebelumnya 4,09 juta. Ini menunjukkan aktivitas pasar perumahan yang lebih lemah.
Indeks Dolar AS (DXY) turun ke level terendah dalam enam pekan setelah melemah selama tujuh sesi berturut-turut. Kondisi ini membantu EURUSD, GBPUSD, dan USDJPY memulihkan kerugian sebelumnya. Harga emas sedikit naik, harga minyak bergerak mendatar, dan saham Asia-Pasifik menguat tipis meski momentumnya terbatas, setelah Wall Street ditutup positif. Dolar Australia terhadap Dolar AS (AUDUSD) melemah akibat data yang kurang menggembirakan, sementara Dolar Selandia Baru terhadap Dolar AS (NZDUSD) dan Dolar AS terhadap Dolar Kanada (USDCAD) menguat terhadap greenback. Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) terkoreksi setelah mencatat kenaikan kuat pada sesi sebelumnya.



EURUSD naik ke level tertinggi dalam enam pekan pada awal perdagangan Selasa, didukung pelemahan Dolar AS, optimisme setelah hasil pemilu di Hungaria, sinyal hawkish dari Bank Sentral Eropa (ECB), serta sentimen pasar global yang sedikit membaik. Pengambil kebijakan ECB Boris Vujčić menambahkan bahwa harga energi masih mendekati proyeksi dasar, sehingga membantu meredakan kekhawatiran tentang krisis energi.
GBPUSD naik ke level tertinggi sejak akhir Februari, mencatat kenaikan harian selama tujuh hari berturut-turut, terutama didorong oleh pelemahan USD. Data British Retail Consortium (BRC) menunjukkan penjualan ritel membaik, dengan penjualan sejenis naik 3,1% secara tahunan dan total penjualan meningkat 3,6%. Kenaikan ini sebagian besar didorong oleh permintaan menjelang Paskah yang datang lebih awal. Namun, belanja konsumen yang mendasari tetap lemah akibat kenaikan biaya bahan bakar.
USDJPY mencatat penurunan harian pertamanya dalam empat sesi setelah mundur dari level tertinggi dalam satu pekan. Tekanan terutama berasal dari pelemahan USD secara keseluruhan, sinyal hawkish dari pejabat Jepang, dan membaiknya sentimen pasar menjelang sejumlah agenda penting.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengonfirmasi akan menghadiri pertemuan Group of Seven (G7), Group of Twenty (G20), International Monetary Fund (IMF), dan Bank Dunia di Washington mulai 15 April. Diskusi akan berfokus pada kondisi keuangan global dan tren energi, tetapi tidak ada sinyal kebijakan baru yang disampaikan.
Meski USD melemah secara luas, AUDUSD bergerak turun, sementara NZDUSD melanjutkan kenaikan dan USDCAD terus melemah. Penurunan AUDUSD didorong oleh sinyal beragam dari Australia dan Tiongkok.
Wakil Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Andrew Hauser mempertahankan sikap hawkish. Ia memperingatkan bahwa inflasi masih tinggi dan risiko stagflasi tetap ada. Hal ini mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengembalikan Indeks Harga Konsumen (CPI) ke target.
Data ekonomi menunjukkan kondisi yang beragam. Indeks kepercayaan bisnis National Australia Bank (NAB) Australia turun tajam dari 0 menjadi -29, sementara kondisi bisnis tetap stabil di +6. Hal ini menekan Dolar Australia (AUD) dan Dolar Selandia Baru (NZD). Data perdagangan China menunjukkan ekspor naik 2,5% secara tahunan, dibandingkan ekspektasi 8,6%, sementara impor melonjak 27,8%, dibandingkan 11,2%. Kondisi ini mempersempit surplus perdagangan dan menandakan kuatnya permintaan domestik, tetapi momentum eksternal yang melemah.
Di Kanada, Perdana Menteri Mark Carney berhasil mengamankan mayoritas di parlemen, sehingga memperkuat posisinya di tengah ketegangan perdagangan yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat. Sementara itu, izin pembangunan Kanada pada Februari turun 8,4%, dibandingkan penurunan 2,1% yang diperkirakan, setelah sebelumnya naik 4,8%.
Harga minyak melemah setelah dibuka dengan gap naik pada awal pekan, seiring membaiknya harapan diplomatik yang meredakan risiko gangguan pasokan dalam waktu dekat di sekitar Selat Hormuz. Namun, ketidakpastian masih berlanjut akibat program nuklir Iran dan sanksi yang masih berlaku.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan harga minyak mungkin mencapai puncaknya dalam beberapa pekan mendatang seiring membaiknya aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan siap melepas lebih banyak cadangan jika diperlukan, setelah pelepasan sebesar 400 juta barel—jumlah terbesar dalam sejarah—termasuk 172 juta barel dari Cadangan Minyak Strategis (SPR). Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menegaskan bahwa langkah lebih lanjut masih mungkin diambil jika situasi memburuk.
Sementara itu, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) melaporkan bahwa produksi turun sebesar 7,7 juta barel per hari (mbpd) pada Maret. Produksi OPEC+ rata-rata mencapai 35,06 mbpd, mencerminkan gangguan yang terkait dengan konflik Iran. Sementara itu, proyeksi permintaan untuk 2026 dan 2027 sebagian besar tidak berubah, menunjukkan ketahanan permintaan meski harga naik.
Emas pulih dari kerugian pada awal pekan dan mencatat kenaikan tipis, didukung optimisme yang berhati-hati dan pelemahan Dolar AS. Para pembeli menguji resistance pada Exponential Moving Average (EMA) 50 hari di sekitar $4.780.
Sentimen di pasar saham Asia-Pasifik mulai stabil, dengan saham Jepang dan Korea Selatan diperdagangkan mendekati level sebelum konflik. Perbaikan ini menyusul kenaikan saham Amerika Serikat (AS) dan penutupan positif indeks-indeks utama AS. Di sektor teknologi, Alphabet Inc. (Google, GOOGL) naik 0,24%, Microsoft Corporation (MSFT) menguat 1,76%, dan Oracle Corporation (ORCL) melonjak 7,25%. Sementara itu, Micron Technology (MU) turun 2,12%, menyoroti berlanjutnya pelemahan di sektor semikonduktor.
Sementara itu, Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) sedikit melemah dengan momentum kenaikan yang terbatas, seiring meredanya reli setelah Senin di tengah minimnya katalis baru di pasar aset digital.
Pidato pejabat Reserve Bank of New Zealand (RBNZ), Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of England (BoE) akan melengkapi rilis data penting Amerika Serikat (AS), termasuk Indeks Harga Produsen (PPI), Perubahan Ketenagakerjaan ADP, dan Indeks Optimisme Bisnis NFIB, dalam agenda ekonomi hari Selasa. Pasar juga terus mencermati negosiasi AS–Iran yang diperkirakan berlangsung pada hari Kamis, serta upaya global untuk mengelola risiko pasokan energi terkait Selat Hormuz.
Dolar AS (USD) masih tertekan meski sentimen pasar beragam, terutama akibat data yang lebih lemah. Penurunan lebih lanjut pada indikator ekonomi dapat menambah tekanan terhadap USD, meskipun kekhawatiran akan meluasnya konflik Iran dan potensi guncangan pasokan dapat membatasi pelemahan USD lebih lanjut.
Jika USD terus melemah, mata uang utama, mata uang kripto, dan komoditas berpotensi mendapat dukungan. Harga emas mungkin melanjutkan pemulihan dari kerugian sebelumnya, sementara harga minyak mentah diperkirakan tetap kuat di tengah ketidakpastian terkait Iran, Selat Hormuz, dan ketegangan di Lebanon. Sementara itu, Bitcoin (BTC) dan saham diperkirakan bergerak beragam dalam kisaran tertentu, kecuali jika laporan laba perusahaan memberikan arah yang lebih jelas.
Semoga keberuntungan menyertai trading Anda!