
Sentimen di pasar emas mulai mereda setelah aksi jual besar-besaran pada Jumat. Analis Wall Street memperkirakan harga logam mulia tersebut dapat bertahan di bawah $1.900 per ons hingga akhir pekan ini.
Sementara itu, sebagian investor ritel masih optimistis dan berupaya membeli emas. Mereka termasuk trader yang entah bagaimana melewatkan kenaikan harga emas sebesar $300 sejak mencapai level terendah dalam dua tahun pada November. Klien cenderung membeli emas karena berbagai alasan.
Sebagian khawatir karena ketidakpastian pasar dan ekonomi. Sebagian lainnya resah dengan inflasi yang melonjak dan dampaknya terhadap daya beli USD. Semua ini mencerminkan kekuatan mendasar emas sebagai salah satu aset paling populer saat pasar mengalami krisis dan gejolak.



Pasar telah menghadirkan peluang yang sangat baik bagi investor ritel untuk masuk. Laporan ketenagakerjaan bulan Januari menunjukkan data yang lebih baik dari perkiraan. Lebih dari 510.000 lapangan kerja tercipta pada bulan lalu. Hal ini menyebabkan harga emas turun lebih dari 2%, sementara para trader bullish tetap aktif berupaya membeli aset tersebut.
Di sisi lain, kondisi pasar tenaga kerja yang terus menguat dapat mendorong pejabat Federal Reserve untuk melanjutkan kebijakan agresif guna menahan kenaikan inflasi. Bahkan, sikap agresif tersebut bisa bertahan jauh lebih lama dari perkiraan. Federal Reserve baru dapat yakin bahwa inflasi terkendali ketika pasar tenaga kerja mulai melemah.
Terkait ekspektasi harga, survei terbaru menunjukkan bahwa 61% investor memperkirakan harga akan naik minggu depan, 25% memperkirakan harga akan turun, dan 14% bersikap netral.
Semoga keberuntungan menyertai trading Anda!